"Iya maaaa.”
Sulit untuk Reno ngga ngebut sewaktu membawa motor. Sepertinya dia punya bakat menjadi pembalap motor. Tapi sayangnya dia ingin jadi seorang dokter. Rena saja bingung kenapa dia pengen jadi dokter, Reno tak pernah mengungkapkan alasannya.
“Kriiiiiiiiiiing, kriiiiiiing, kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.” bel sekolah berbunyi.
“Gila lo ka ngebut banget. Untung gua ngga ada penyakit jantung.”
“Tapi lo ada asma dek.”
“Ngga usah diingetin bisa kali ka.”
“Hhehehe, peace adikku tersayang.”
“Udah ah gua mau masuk aja keburu pak botak masuk kelas.” Seru Rena berburu memasuki sekolah, sementara Reno masih terlihat begitu santai di parkiran sekolah. Tiba-tiba seorang cewe yang tidak asing lagi bagi Reno berdiri dihadapannya dan memegang tangannya.
“No, aku pengen bicara sama kamu. Tolong dengerin aku.”
“Maaf tapi ngga ada yang perlu untuk dibicarakan lagi.” Ucap Reno seraya melepaskan genggaman tangan cewe itu dan pergi, meninggalkan suasana dingin di antara mereka.
“Woi Ren, hampir aja lo telat lagi!” Teriak Nindi, salah satu sahabat Rena yang sontak membuat seisi kelas melihat drinya dan memberinya tepuk tangan, seakan ketidakterlambatan Rena adalah suatu yang patut diberi penghargaan.
“Haha, hebat kan gua kaga telat. Gua nafas dulu ya.” Sambil menarik bangkunya dan duduk mengusap dadanya.
“ Pas banget bel lo dateng. Pasti berangkat bareng kakak lo yang ganteng itu ya? Beruntung lo punya kakak yang ganteng kayak gitu, apa lagi kalo kakak lo baru keluar dari kolam renang sekolah, OMG ganteng banget, auranya bikin melting. Udah gitu badannya, oh my God melting abis gua.” Ucap Manda panjang lebar.
“Iya bener badannya itu loh. Sumpah, gua ngga bisa menolak kecharmingan kakak lo itu. You know, he’s so charming.” Tambah Nindi.
Rena yang mendengar ocehan teman-temannya cuma bisa mengganguk. Dia memang mengakui kakaknya itu sungguh mempesona, tapi mungkin karena dia satu rumah dengan kakaknya sejak dia lahir, baginya tidak ada yang istimewa dari kakaknya itu,selain kenyataan bahwa Reno adalah kakak terbaik yang dia punya.
“Ehem.” Suara batuk khas dengan nada yang berat itu mengubah kebisingan dalam kelas menjadi keheningan. Semua murid dalam kelas itu sontak duduk dengan rapih tanpa suara, terutama Rena yang sudah banyak makan asam dan garam karena begitu sering dia dimarahi oleh pemilik suara itu. Pemilik suara itu memerhatikan dengan tajam seisi kelas dari balik kacamata bulat besar yang dikenakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar