Senin, 09 Juli 2012

the song of the day, "Yesung - It Has To Be You"


oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda
i gil kkeuteseo seoseongineun na
dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
naneun tto i gireul mutneunda
neol bogo sipdago
tto ango sipdago
jeo haneulbomyeo gidohaneun nal
niga animyeon andwae
neo eobsin nan andwae
na ireoke haru handareul tto illyeoneul
na apado joha
nae mam dachyeodo joha nan
geurae nan neo hanaman saranghanikka
na du beon dasineun
bonael su eopdago
na neoreul itgo salsun eopdago
niga animyeon andwae
neo eobsin nan andwae
na ireoke haru handareul tto illyeoneul
na apado joha
nae mam dachyeodo joha nan
geurae nan neo hanaman saranghanikka
nae meongdeun gaseumi
neol chajaorago
sorichyeo bureunda
neon eodinneungeoni
naui moksori deulliji annni
naegeneun
na dasi sarado
myeot beoneul taeeonado
harudo niga eobsi sal su eomneun na
naega jikyeojul saram
naega saranghal saram nan
geurae nan neo hanamyeon chungbunhanikka
neo hanaman saranghanikka

 It Has To Be You (English Translate)
Today, i wander in my memory
I’m pasing around on the end of this way
You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more
I’m losing my way again
I’m praying to the sky i want see you and hold you more
that i want to see you and hold you more
It can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
i cannot send you away one more time
i can’t live without you
it can’t be if it’s not you
i can’t be without you
it’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
it’s fine even if my heart’s hurts
yes because i’m just in love with you
my bruised heart
is screaming to me to find you
where are you?
can’t you hear my voice?
to me…
if i live my life again
if i’m born over and over again
i can’t live without you for a day
You’re the one i will keep
you’re the one i will love
i’m…yes because i’m happy enough if i could be with you

the song of the day, "Club Eighties - Cinta dan Luka"


Pernah kutawarkan isi hatiku
Tuk redakan setiap luka hatimu
Pernah kuungkap tuk milikimu
Kau membisu apakah itu jawabmu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Pernah kukira ini tentang cinta
Oh ternyata hanya sahabat setia
Pernah kau minta bunuh cintaku
Kau membisu takkan pernah jawabku

Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalinkan kisah nyata
Dan terluka

Pernah kukira ini tentang cinta
Oh ternyata hanya sahabat setia
Pernah kau minta bunuh cintaku
Kau membisu takkan pernah jawabku

Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalinkan kisah nyata
Dan terluka

Setiap tetes airmata
Selalu kau menangis di pelukku
Namun setiap saat kau bahagia
Selalu kau memilih bersamanya

Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalinkan kisah nyata
Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalinkan kisah nyata
Dan terluka

Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalinkan kisah nyata 
Dan terluka

Pernah terpikir tuk tinggalkanmu

Selasa, 07 Februari 2012

Untitled, Memories part 3

...
Rena berhenti, sepertinya dia melihat Exel. Dia ingin memanggilnya, tapi mengingat perasaannya tadi, dia mengurungkan niatnya.
“Kenapa dek?” Tanya Reno padanyanya.
“Ngga kenapa-kenapa ka. Gua cuma ngeliat temen gua. Anak baru dia di kelas gua.”
“Exel bukan namanya?”
Rena kaget, ngga dia sangka kakaknya tau Exel. “Iya bener, ko kakak tau?”
“Hehe… ngga usah kaget gitu dong de. Dia tadi daftar jadi anggota club renang, jadi yaaah otomatis gua tau.”
“Oooh… Begitu.pantesan. Oh iya ka, mampir ke toko musik dulu ya.”
“Mau ngapain lagi lo? Perasaan tiap hari ke toko musik mulu.”
“Kaga tiap hari siiiih, weee. Gua mau beli senar gitar. Kemaren senarnya putus.”
“Makanya adikku tersayang, senar gitar tuh jangan digigitin melulu. Putus kan. Haha…”
“Enak aja. Emang gua tikus. Udah yuk, biar ngga kesorean pulangnya.”
“Sip adikku.”
Rena masih memikirkan Exel. Gua harus bisa melupakan hal ini.
“Exel pulang.” Salam yang selalu Exel ucapkan saat tiba di rumah. Dan seperti biasa rumahnya kosong. Harusnya ada mamanya yang sudah siap untuk membalas sapaannya, tapi semua itu tidak lagi terjadi sejak satu bulan yang lalu, mamanya sudah pergi, tidak bersama dirinya lagi, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Bayang-bayang kesedihan kembali menyelimuti Exel. Seandainya gua ngga ngebiarin mama bawa mobil waktu itu, mungkin mama masih ada di sini nemenin gua.
Satu bulan lalu, mamanya berniat membeli kue untuk hari ulang tahunnya, Exel ingin menemaninya, setidaknya menyetirkan mobil untuk mamanya, karena hari itu hujan lebat dan angin cukup kencang. Namun mamanya menolak, dia tidak ingin merusak kejutan untuk ulang tahun Exel. Exel pun membiarkan mamanya pergi. Perasaannya tidak enak saat itu, tapi mamanya meyakinkannya bahwa tidak ada yang akan terjadi. “Believe me son, I will back soon. I’m promise. Don’t worry. OK.” “OK mom, be careful. Bye.” Dan mama mengecup kening Exel. Dia masih ingat kecupan itu di keningnya, kecupan terakhir mamanya, bahkan dia masih bisa merasakan hangatnya kecupan itu. Satu jam kemudian telepon berbunyi, Exel mengangkatnya. Hal indah yang semula dia bayangkan berubah suram. Dia ingin berteriak, menangis, tapi lidahnya kelu. Semua itu tumpah saat upacara pemakaman, dia tidak sanggup melihat wajah yang terlihat begitu tenang, damai. Meskipun sekilas dia melihat mamanya tersenyum. Namun dia tetap mengharapkan wajah yang bersinar, wajah wanita Amerika yang selalu diakuinya sebagai wajah paling cantik di dunia, wajah yang selalu menebarkan kehangatan, dan kebahagiaan, terbentang sejuta kata kasih untuk Exel dan papanya. Tapi tentu semua sudah sirna, tidak ada yang tersisa, just their memories. Exel merindukannya, ya dia sangat  merindukannya.
Exel menggambil album fotonya. Dia membukanya dan membaliknya halaman per halaman. Diambilnya satu buah foto, lalu dia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di belakang foto itu. I threw our memories in your smile, love you mom. Exel kemudian memeluk foto itu, perlahan-lahan dia tertidur, perasaannya sangat lelah.
...

Kamis, 02 Februari 2012

Untitled, Memories part 2


... “That should be holding your hand, that should be making you laugh, that should be this is so sad, that should be me, that should be me…”
“Prok, prok, prok…” Suara tepuk tangan itu sontak membuat Rena menghentikan permainan gitarnya. Ternyata kakaknya tersayang, Reno telah bersender di pintu masuk ruang musik.
“Dari kapan lo di situ ka? Gangguin aja nih.” Ucap Rena sewot.
Reno mendekati adiknya dan mencubit pipi adiknya.
“Au. Sakit tau. Ditanyain juga malah nyubit pipi orang.”
“Abis gua gemes sih, suara lo bagus sih dek, hehe. Pulang yuk udah mulai sore nih. Entar dicariin mama.”
“Tumben ka ngajakin pulang jam segini, biasanya gua yang nungguin lo, lagipula ini kan hari Selasa, ngga berenang lo?”
“Kaga ada kegiatan hari ini dek. Jangan sewot gitu napa. Udah yuk pulang, laper nih.”
“Iya iya. Bentar gua mau taruh ni gitar dulu.” Dia meletakkan gitar lalu mengambil tas converse kesayangannya. “Ayo pulang.” Tambahnya sambil menggandeng kakaknya persis seperti sedang pacaran.
Kenapa Reno nanyain Rena apa jangan-jangan mereka… Apalagi Reno anak kelas tiga, dan gua yakin pasti banyak cewe yang suka sama dia, termasuk Rena. Ah lagian ngapain sih gua mikirin dia. OK, gua ngga mikirin, gua cuma penasaran, lebih baik gua tanya Dendi, dia pasti tau,eh  tapi ngga deh seharian gua udah nanya ke Dendi, dia malah bilang gua cemburu lagi. Gua harus cari tau, sendiri.
Setelah pertemuannnya dengan Reno atau sejak Reno menanyakan tentang Rena, Exel merasa gelisah. Dia harus tau ada hubungan apa Reno dengan Rena, dia harus menyelidikinya. Dendi yang sedari tadi berjalan bersama Exel, menyadarai kegelisahannya.
“Kenapa lo, Xel?”
“Eh ngga kenapa-kenapa. Cumaaa, gua ngerasa ada yang ketinggalan. Tapi gua ngga tau apa yang ketinggalan. Apa ya?” Ucapnya sambil berpura-pura berpikir.
“Coba periksa tas lo dulu.”
Exel membuka tasnya, berpura-pura mencari sesuatu. “HP gua ngga ada Den, kayaknya ketinggalan di kelas deh, gua ambil dulu ya. Lo balik duluan aja.”
“OK dah Xel, hati-hati lo baliknya.”
“Pasti.” Exel segera berlalu dari hadapan Dendi.  HPnya tidak ketinggalan, ada dalam tasnya, dia hanya butuh alasan untuk bisa menyelidiki hubungan Reno dan Rena. Dia harus ke ruang musik.
Belum dia sampai di depan ruang musik, dia sudah melihat pemandangan yang cukup membuatnya yakin. Reno dan Rena keluar dari ruang musik, berpegangan tangan. Terlihat sekali wajah Rena yang tertawa, harus dia akui Rena memang manis. Exel tersenyum, tapi sedetik kemudian senyumnya hilang. Perasaan yang aneh, ini pertama kalinya untuk orang yang sudah berkali-kali melihat orang pacaran. Dia mengusap dadanya, rasanya sesak. Gua ingin pulang. Rena menyadari kehadirannya, tapi dia sudah berbalik arah. Pulang, dia hanya ingin pulang.
...

Sabtu, 28 Januari 2012

Untitled, Memories part 1


“Woi No.” Suara itu menghamburkan lamunan seorang cowo berperawakan tinggi, ganteng, manis, bertubuh proporsional, begitulah para cewe menilainya. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat itu. Dia menengok ke arah suara panggilan itu datang. Dendi, sepupunya datang bersama seorang cowo. Wajah cowo itu ngga familiar baginya, bukan karena dia terlihat seperti bule, tapi memang dia baru melihatnya sore ini. Kayaknya anak baru tuh cowo.
     “Woi Den.” Sahutnya dengan mengangkat tangan kanannya.
     “No, gua bawa anak baru nih, katanya dia mau ikut club renang.”
     “Gua Exel, gua mau ikut club renang ini.” Ucap cowo itu sambil mengulurkan tangannya.
     “Gua Reno. Ketua club renang di sini.” Balasnya dengan menjabat tangan cowo itu. “ Jadi lo mau ikut club renang ini?”
     “Iya gua mau, boleh ikut club ini kan?”
     “OK selamat ikut di club ini. Kita latian tiap hari Selasa pulang sekolah, dan Sabtu jam 9 pagi, latiannya di sini, di aula renang. Harusnya kita ada latian hari ini, tapi untuk hari ini libur dulu. Jadi lo dateng aja hari Sabtu.”
     “Baiklah. Thanks No.”
     “You’re welcome.”
     “No. Kita pulang duluan ya.” Ucap Dendi menepuk pundak Reno.
     “OK Den.” Balasnya menepuk balik pundak Dendi. “Oh iya, Rena udah balik belum Den?”
     Mendengar Reno mengucap nama Rena, membuat rasa penasaran Exel muncul lagi.
     “Tadi sih yang gua liat dia ke ruang musik, cari aja ke sana, siapa tau dia belum balik.” Jawab Dendi.
     “OK deh Den. Thanks.”
     “Yoi No. Gua balik ya.”
     “Balik duluan ya No.” Tambah Exel. Tapi rasa penasaran masi meliputi dirinya.
     “Yo. Hati-hati.”
     Reno kini sendiri lagi, pikirannya yang tadi sudah mampu hilang kembali lagi. Kenapa begitu sulit menampik pikiran ini. Menggelengkan kepala, mengacak-acak rambutnya yang cukup panjang untuk ukuran anak SMA, mencoba menghapus pikiran-pikiran itu, tapi sulit. Gua harus berhenti mikirin ini semua. Dia mengambil tasnya meninggalkan ruangan itu. Tidak menyadari seorang cewe masih memperhatikannya dari sisi yang lain.
...

Minggu, 22 Januari 2012

the song of the day, Brian McKnight - Never Felt This Way

There will never come a day
you'll ever hear me say
that I want and need to be without you.
I want to give my all.
Baby, just hold me.
Simply control me.
'Cuz your arms, they keep away the lonelies.


[chorus]
When I look into your eyes
then I relize
that all I need is you in my life.
All I need is you in my life.
'Cuz I've never felt this way about lovin'.
Never felt so good.
Never felt this way about lovin'
It feels so good. 


How it takes my breath,
starts a pounding in my chest,
makes me weak, when I think about you.
Makes me wanna give my all,
Life wouldn't mean a thing.
Not a happy song to sing,
just emptiness if I had to live without you. 


[repeat chorus]

 
'Cuz I've never felt this way about lovin', darlin'
Never felt so good.
Never felt this way about lovin'
It feels so good. woo!

Kamis, 19 Januari 2012

Untitled, Something New or Something Wrong part 4


... “Terima kasih Pak.”
     Rena kembali ke tempat duduknya, menyisakan tanda tanya besar di wajah Exel. Ada apa dengan cewe itu?
     Kedua sahabat Rena siap melemparkan banyak pertanyaan atau mungkin komen. Tapi melihat wajah Rena yang tidak mengenakkan menurut mereka, tidak ada pertanyaan ataupun komentar yang dilontarkan hingga bel tanda istirahat berbunyi
     “Ren, beruntung lo bisa berhadapan dengan Exel, dia tuh ganteng banget.” Ceplos Nindi sambil memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
     “Bener Ren, Exel ganteng. Tapi kenapa muka lo aneh gitu di hadapan Exel? Malu-malu tapi keliatan takut juga. Jangan-jangan lo jatuh cinta pandangan pertama lagi sama dia.” Ucap Manda.
     Rena tidak menghiraukan apa yang diucapkan teman-temannya. Dia memilih berkonsentrasi pada musik yang didengarnya, walaupun sebenarnya dia juga mendengar setiap ucapan teman-temannya, terutama apa yang Manda ucapkan. Gua ngga percaya lagi dengan kata-kata jatuh cinta pandangan pertama. Lagipula apa perasaan ini layak disebut cinta? Rena semakin larut dalam pikirannya sendiri bahkan musik yang didengarnya dari I-pod seakan berlalu begitu saja dari telinganya. Rena menggelengkan kepalanya mencoba menghapuskan setiap pikiran-pikiran tentang Exel dan cinta itu, dan baru sadar lagu yang sedang diputar I-pod miliknya adalah lagu Aku Butuh Cinta dari After,segera dia mengganti lagu itu, yang gua butuh sekarang lagu rock. Rena mulai berkonsentrasi lagi dengan musik yang didengarnya. Tak menyadari seseorang memerhatikannya dari jauh.
     Dari jauh Exel memperhatikan cewe itu. Rena, ya itu namanya. Tapi gua merasa ada yang janggal dari cewe itu. Apa itu, gua bingung.
     “Den, cewe itu siapa?” Tanyanya pada Dendi sambil menunjuk ke arah Rena yang terlihat asik mendengarkan musik.
     “Yang mana? Oh, itu Rena. Renata Melodyna. Bukannya tadi pagi lo udah kenalan ya sama dia?”
     Renata Melodyna, kenapa gua jadi makin penasaran sama cewe itu. “Iya, cuma sebatas jabat tangan. Eh dia itu orangnya pendiem ya?”
     “Haha… Kadang-kadang aja ko. Aslinya dia tuh anak yang asik, sama siapa aja nyambung. Ngga hanya cantik dan tapi dia juga bersahabat, sama siapa aja deket, mau cewe atau cowo, makanya banyak cowo yang suka sama dia, tapi sayangnya dia ngga ngerespon cowo-cowo itu.”
     “Termasuk lo?”
     “Haha… Kagak. Rena itu sepupu gua, dari kecil juga udah main bareng. Lagipula gua punya cewe. Itu cewe gua yang lagi makan di sebelah Rena. Namanya Nindi.”
     “Oh, gua kira. Berarti lo tau Rena banget dong?”
     “Iya begitulah. But wait. Why you want know about her? Did you feel love at first sight?”
     “Haha… Sorry, but I never believe love at first sight.”
     “OK. Maybe someday you will believe that.”
     “Yeah. Maybe. Udah ah, laper gua, nih mie ayam udah bengkak.”
     “Yo wiss di makan dulu makanannya Ndo, haha.”
     Mendengar penjelasan Dendi, Exel semakin penasaran dengan cewe itu, Renata Melodyna, bukan karena tertarik, tapi hanya penasaran. Hanya atau lebih dari sekedar hanya.
Mengapa aku merasa lemah dihadapanmu.
Tiap tindakanku untuk menjadi kuat malah membuatku terlihat bodoh dihadapanmu.
Memalingkan pandangan darimu membuatku merasa bersalah.
Memandangmu dari jauh hanya membuat hatiku semakin sakit.
Dari awal aku ingin menyerah.
Namun senyumanmu datang membongkar setiap hal yang mulai kulupakan.
Bukan karena aku ingin kembali ke masa itu.
Tapi karena kau mengingatkanku tentang masa itu
Ya masih, aku masih terluka.
Balutan luka itu tidak mampu menghilangakan rasa perih.
Walaupun jika aku harus jujur.
     Perih yang tersisa itu tak mampu menghapus perasaanku padamu
...