Kamis, 19 Januari 2012

Untitled, Something New or Something Wrong part 4


... “Terima kasih Pak.”
     Rena kembali ke tempat duduknya, menyisakan tanda tanya besar di wajah Exel. Ada apa dengan cewe itu?
     Kedua sahabat Rena siap melemparkan banyak pertanyaan atau mungkin komen. Tapi melihat wajah Rena yang tidak mengenakkan menurut mereka, tidak ada pertanyaan ataupun komentar yang dilontarkan hingga bel tanda istirahat berbunyi
     “Ren, beruntung lo bisa berhadapan dengan Exel, dia tuh ganteng banget.” Ceplos Nindi sambil memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
     “Bener Ren, Exel ganteng. Tapi kenapa muka lo aneh gitu di hadapan Exel? Malu-malu tapi keliatan takut juga. Jangan-jangan lo jatuh cinta pandangan pertama lagi sama dia.” Ucap Manda.
     Rena tidak menghiraukan apa yang diucapkan teman-temannya. Dia memilih berkonsentrasi pada musik yang didengarnya, walaupun sebenarnya dia juga mendengar setiap ucapan teman-temannya, terutama apa yang Manda ucapkan. Gua ngga percaya lagi dengan kata-kata jatuh cinta pandangan pertama. Lagipula apa perasaan ini layak disebut cinta? Rena semakin larut dalam pikirannya sendiri bahkan musik yang didengarnya dari I-pod seakan berlalu begitu saja dari telinganya. Rena menggelengkan kepalanya mencoba menghapuskan setiap pikiran-pikiran tentang Exel dan cinta itu, dan baru sadar lagu yang sedang diputar I-pod miliknya adalah lagu Aku Butuh Cinta dari After,segera dia mengganti lagu itu, yang gua butuh sekarang lagu rock. Rena mulai berkonsentrasi lagi dengan musik yang didengarnya. Tak menyadari seseorang memerhatikannya dari jauh.
     Dari jauh Exel memperhatikan cewe itu. Rena, ya itu namanya. Tapi gua merasa ada yang janggal dari cewe itu. Apa itu, gua bingung.
     “Den, cewe itu siapa?” Tanyanya pada Dendi sambil menunjuk ke arah Rena yang terlihat asik mendengarkan musik.
     “Yang mana? Oh, itu Rena. Renata Melodyna. Bukannya tadi pagi lo udah kenalan ya sama dia?”
     Renata Melodyna, kenapa gua jadi makin penasaran sama cewe itu. “Iya, cuma sebatas jabat tangan. Eh dia itu orangnya pendiem ya?”
     “Haha… Kadang-kadang aja ko. Aslinya dia tuh anak yang asik, sama siapa aja nyambung. Ngga hanya cantik dan tapi dia juga bersahabat, sama siapa aja deket, mau cewe atau cowo, makanya banyak cowo yang suka sama dia, tapi sayangnya dia ngga ngerespon cowo-cowo itu.”
     “Termasuk lo?”
     “Haha… Kagak. Rena itu sepupu gua, dari kecil juga udah main bareng. Lagipula gua punya cewe. Itu cewe gua yang lagi makan di sebelah Rena. Namanya Nindi.”
     “Oh, gua kira. Berarti lo tau Rena banget dong?”
     “Iya begitulah. But wait. Why you want know about her? Did you feel love at first sight?”
     “Haha… Sorry, but I never believe love at first sight.”
     “OK. Maybe someday you will believe that.”
     “Yeah. Maybe. Udah ah, laper gua, nih mie ayam udah bengkak.”
     “Yo wiss di makan dulu makanannya Ndo, haha.”
     Mendengar penjelasan Dendi, Exel semakin penasaran dengan cewe itu, Renata Melodyna, bukan karena tertarik, tapi hanya penasaran. Hanya atau lebih dari sekedar hanya.
Mengapa aku merasa lemah dihadapanmu.
Tiap tindakanku untuk menjadi kuat malah membuatku terlihat bodoh dihadapanmu.
Memalingkan pandangan darimu membuatku merasa bersalah.
Memandangmu dari jauh hanya membuat hatiku semakin sakit.
Dari awal aku ingin menyerah.
Namun senyumanmu datang membongkar setiap hal yang mulai kulupakan.
Bukan karena aku ingin kembali ke masa itu.
Tapi karena kau mengingatkanku tentang masa itu
Ya masih, aku masih terluka.
Balutan luka itu tidak mampu menghilangakan rasa perih.
Walaupun jika aku harus jujur.
     Perih yang tersisa itu tak mampu menghapus perasaanku padamu
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar