Selasa, 07 Februari 2012

Untitled, Memories part 3

...
Rena berhenti, sepertinya dia melihat Exel. Dia ingin memanggilnya, tapi mengingat perasaannya tadi, dia mengurungkan niatnya.
“Kenapa dek?” Tanya Reno padanyanya.
“Ngga kenapa-kenapa ka. Gua cuma ngeliat temen gua. Anak baru dia di kelas gua.”
“Exel bukan namanya?”
Rena kaget, ngga dia sangka kakaknya tau Exel. “Iya bener, ko kakak tau?”
“Hehe… ngga usah kaget gitu dong de. Dia tadi daftar jadi anggota club renang, jadi yaaah otomatis gua tau.”
“Oooh… Begitu.pantesan. Oh iya ka, mampir ke toko musik dulu ya.”
“Mau ngapain lagi lo? Perasaan tiap hari ke toko musik mulu.”
“Kaga tiap hari siiiih, weee. Gua mau beli senar gitar. Kemaren senarnya putus.”
“Makanya adikku tersayang, senar gitar tuh jangan digigitin melulu. Putus kan. Haha…”
“Enak aja. Emang gua tikus. Udah yuk, biar ngga kesorean pulangnya.”
“Sip adikku.”
Rena masih memikirkan Exel. Gua harus bisa melupakan hal ini.
“Exel pulang.” Salam yang selalu Exel ucapkan saat tiba di rumah. Dan seperti biasa rumahnya kosong. Harusnya ada mamanya yang sudah siap untuk membalas sapaannya, tapi semua itu tidak lagi terjadi sejak satu bulan yang lalu, mamanya sudah pergi, tidak bersama dirinya lagi, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Bayang-bayang kesedihan kembali menyelimuti Exel. Seandainya gua ngga ngebiarin mama bawa mobil waktu itu, mungkin mama masih ada di sini nemenin gua.
Satu bulan lalu, mamanya berniat membeli kue untuk hari ulang tahunnya, Exel ingin menemaninya, setidaknya menyetirkan mobil untuk mamanya, karena hari itu hujan lebat dan angin cukup kencang. Namun mamanya menolak, dia tidak ingin merusak kejutan untuk ulang tahun Exel. Exel pun membiarkan mamanya pergi. Perasaannya tidak enak saat itu, tapi mamanya meyakinkannya bahwa tidak ada yang akan terjadi. “Believe me son, I will back soon. I’m promise. Don’t worry. OK.” “OK mom, be careful. Bye.” Dan mama mengecup kening Exel. Dia masih ingat kecupan itu di keningnya, kecupan terakhir mamanya, bahkan dia masih bisa merasakan hangatnya kecupan itu. Satu jam kemudian telepon berbunyi, Exel mengangkatnya. Hal indah yang semula dia bayangkan berubah suram. Dia ingin berteriak, menangis, tapi lidahnya kelu. Semua itu tumpah saat upacara pemakaman, dia tidak sanggup melihat wajah yang terlihat begitu tenang, damai. Meskipun sekilas dia melihat mamanya tersenyum. Namun dia tetap mengharapkan wajah yang bersinar, wajah wanita Amerika yang selalu diakuinya sebagai wajah paling cantik di dunia, wajah yang selalu menebarkan kehangatan, dan kebahagiaan, terbentang sejuta kata kasih untuk Exel dan papanya. Tapi tentu semua sudah sirna, tidak ada yang tersisa, just their memories. Exel merindukannya, ya dia sangat  merindukannya.
Exel menggambil album fotonya. Dia membukanya dan membaliknya halaman per halaman. Diambilnya satu buah foto, lalu dia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di belakang foto itu. I threw our memories in your smile, love you mom. Exel kemudian memeluk foto itu, perlahan-lahan dia tertidur, perasaannya sangat lelah.
...

Kamis, 02 Februari 2012

Untitled, Memories part 2


... “That should be holding your hand, that should be making you laugh, that should be this is so sad, that should be me, that should be me…”
“Prok, prok, prok…” Suara tepuk tangan itu sontak membuat Rena menghentikan permainan gitarnya. Ternyata kakaknya tersayang, Reno telah bersender di pintu masuk ruang musik.
“Dari kapan lo di situ ka? Gangguin aja nih.” Ucap Rena sewot.
Reno mendekati adiknya dan mencubit pipi adiknya.
“Au. Sakit tau. Ditanyain juga malah nyubit pipi orang.”
“Abis gua gemes sih, suara lo bagus sih dek, hehe. Pulang yuk udah mulai sore nih. Entar dicariin mama.”
“Tumben ka ngajakin pulang jam segini, biasanya gua yang nungguin lo, lagipula ini kan hari Selasa, ngga berenang lo?”
“Kaga ada kegiatan hari ini dek. Jangan sewot gitu napa. Udah yuk pulang, laper nih.”
“Iya iya. Bentar gua mau taruh ni gitar dulu.” Dia meletakkan gitar lalu mengambil tas converse kesayangannya. “Ayo pulang.” Tambahnya sambil menggandeng kakaknya persis seperti sedang pacaran.
Kenapa Reno nanyain Rena apa jangan-jangan mereka… Apalagi Reno anak kelas tiga, dan gua yakin pasti banyak cewe yang suka sama dia, termasuk Rena. Ah lagian ngapain sih gua mikirin dia. OK, gua ngga mikirin, gua cuma penasaran, lebih baik gua tanya Dendi, dia pasti tau,eh  tapi ngga deh seharian gua udah nanya ke Dendi, dia malah bilang gua cemburu lagi. Gua harus cari tau, sendiri.
Setelah pertemuannnya dengan Reno atau sejak Reno menanyakan tentang Rena, Exel merasa gelisah. Dia harus tau ada hubungan apa Reno dengan Rena, dia harus menyelidikinya. Dendi yang sedari tadi berjalan bersama Exel, menyadarai kegelisahannya.
“Kenapa lo, Xel?”
“Eh ngga kenapa-kenapa. Cumaaa, gua ngerasa ada yang ketinggalan. Tapi gua ngga tau apa yang ketinggalan. Apa ya?” Ucapnya sambil berpura-pura berpikir.
“Coba periksa tas lo dulu.”
Exel membuka tasnya, berpura-pura mencari sesuatu. “HP gua ngga ada Den, kayaknya ketinggalan di kelas deh, gua ambil dulu ya. Lo balik duluan aja.”
“OK dah Xel, hati-hati lo baliknya.”
“Pasti.” Exel segera berlalu dari hadapan Dendi.  HPnya tidak ketinggalan, ada dalam tasnya, dia hanya butuh alasan untuk bisa menyelidiki hubungan Reno dan Rena. Dia harus ke ruang musik.
Belum dia sampai di depan ruang musik, dia sudah melihat pemandangan yang cukup membuatnya yakin. Reno dan Rena keluar dari ruang musik, berpegangan tangan. Terlihat sekali wajah Rena yang tertawa, harus dia akui Rena memang manis. Exel tersenyum, tapi sedetik kemudian senyumnya hilang. Perasaan yang aneh, ini pertama kalinya untuk orang yang sudah berkali-kali melihat orang pacaran. Dia mengusap dadanya, rasanya sesak. Gua ingin pulang. Rena menyadari kehadirannya, tapi dia sudah berbalik arah. Pulang, dia hanya ingin pulang.
...