Kamis, 02 Februari 2012

Untitled, Memories part 2


... “That should be holding your hand, that should be making you laugh, that should be this is so sad, that should be me, that should be me…”
“Prok, prok, prok…” Suara tepuk tangan itu sontak membuat Rena menghentikan permainan gitarnya. Ternyata kakaknya tersayang, Reno telah bersender di pintu masuk ruang musik.
“Dari kapan lo di situ ka? Gangguin aja nih.” Ucap Rena sewot.
Reno mendekati adiknya dan mencubit pipi adiknya.
“Au. Sakit tau. Ditanyain juga malah nyubit pipi orang.”
“Abis gua gemes sih, suara lo bagus sih dek, hehe. Pulang yuk udah mulai sore nih. Entar dicariin mama.”
“Tumben ka ngajakin pulang jam segini, biasanya gua yang nungguin lo, lagipula ini kan hari Selasa, ngga berenang lo?”
“Kaga ada kegiatan hari ini dek. Jangan sewot gitu napa. Udah yuk pulang, laper nih.”
“Iya iya. Bentar gua mau taruh ni gitar dulu.” Dia meletakkan gitar lalu mengambil tas converse kesayangannya. “Ayo pulang.” Tambahnya sambil menggandeng kakaknya persis seperti sedang pacaran.
Kenapa Reno nanyain Rena apa jangan-jangan mereka… Apalagi Reno anak kelas tiga, dan gua yakin pasti banyak cewe yang suka sama dia, termasuk Rena. Ah lagian ngapain sih gua mikirin dia. OK, gua ngga mikirin, gua cuma penasaran, lebih baik gua tanya Dendi, dia pasti tau,eh  tapi ngga deh seharian gua udah nanya ke Dendi, dia malah bilang gua cemburu lagi. Gua harus cari tau, sendiri.
Setelah pertemuannnya dengan Reno atau sejak Reno menanyakan tentang Rena, Exel merasa gelisah. Dia harus tau ada hubungan apa Reno dengan Rena, dia harus menyelidikinya. Dendi yang sedari tadi berjalan bersama Exel, menyadarai kegelisahannya.
“Kenapa lo, Xel?”
“Eh ngga kenapa-kenapa. Cumaaa, gua ngerasa ada yang ketinggalan. Tapi gua ngga tau apa yang ketinggalan. Apa ya?” Ucapnya sambil berpura-pura berpikir.
“Coba periksa tas lo dulu.”
Exel membuka tasnya, berpura-pura mencari sesuatu. “HP gua ngga ada Den, kayaknya ketinggalan di kelas deh, gua ambil dulu ya. Lo balik duluan aja.”
“OK dah Xel, hati-hati lo baliknya.”
“Pasti.” Exel segera berlalu dari hadapan Dendi.  HPnya tidak ketinggalan, ada dalam tasnya, dia hanya butuh alasan untuk bisa menyelidiki hubungan Reno dan Rena. Dia harus ke ruang musik.
Belum dia sampai di depan ruang musik, dia sudah melihat pemandangan yang cukup membuatnya yakin. Reno dan Rena keluar dari ruang musik, berpegangan tangan. Terlihat sekali wajah Rena yang tertawa, harus dia akui Rena memang manis. Exel tersenyum, tapi sedetik kemudian senyumnya hilang. Perasaan yang aneh, ini pertama kalinya untuk orang yang sudah berkali-kali melihat orang pacaran. Dia mengusap dadanya, rasanya sesak. Gua ingin pulang. Rena menyadari kehadirannya, tapi dia sudah berbalik arah. Pulang, dia hanya ingin pulang.
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar