...
Rena berhenti, sepertinya dia melihat Exel. Dia ingin memanggilnya, tapi mengingat perasaannya tadi, dia mengurungkan niatnya.
“Kenapa dek?” Tanya Reno padanyanya.
“Ngga kenapa-kenapa ka. Gua cuma ngeliat temen gua. Anak baru dia di kelas gua.”
“Exel bukan namanya?”
Rena kaget, ngga dia sangka kakaknya tau Exel. “Iya bener, ko kakak tau?”
“Hehe… ngga usah kaget gitu dong de. Dia tadi daftar jadi anggota club renang, jadi yaaah otomatis gua tau.”
“Oooh… Begitu.pantesan. Oh iya ka, mampir ke toko musik dulu ya.”
“Mau ngapain lagi lo? Perasaan tiap hari ke toko musik mulu.”
“Kaga tiap hari siiiih, weee. Gua mau beli senar gitar. Kemaren senarnya putus.”
“Makanya adikku tersayang, senar gitar tuh jangan digigitin melulu. Putus kan. Haha…”
“Enak aja. Emang gua tikus. Udah yuk, biar ngga kesorean pulangnya.”
“Sip adikku.”
Rena masih memikirkan Exel. Gua harus bisa melupakan hal ini.
“Exel pulang.” Salam yang selalu Exel ucapkan saat tiba di rumah. Dan seperti biasa rumahnya kosong. Harusnya ada mamanya yang sudah siap untuk membalas sapaannya, tapi semua itu tidak lagi terjadi sejak satu bulan yang lalu, mamanya sudah pergi, tidak bersama dirinya lagi, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Bayang-bayang kesedihan kembali menyelimuti Exel. Seandainya gua ngga ngebiarin mama bawa mobil waktu itu, mungkin mama masih ada di sini nemenin gua.
Satu bulan lalu, mamanya berniat membeli kue untuk hari ulang tahunnya, Exel ingin menemaninya, setidaknya menyetirkan mobil untuk mamanya, karena hari itu hujan lebat dan angin cukup kencang. Namun mamanya menolak, dia tidak ingin merusak kejutan untuk ulang tahun Exel. Exel pun membiarkan mamanya pergi. Perasaannya tidak enak saat itu, tapi mamanya meyakinkannya bahwa tidak ada yang akan terjadi. “Believe me son, I will back soon. I’m promise. Don’t worry. OK.” “OK mom, be careful. Bye.” Dan mama mengecup kening Exel. Dia masih ingat kecupan itu di keningnya, kecupan terakhir mamanya, bahkan dia masih bisa merasakan hangatnya kecupan itu. Satu jam kemudian telepon berbunyi, Exel mengangkatnya. Hal indah yang semula dia bayangkan berubah suram. Dia ingin berteriak, menangis, tapi lidahnya kelu. Semua itu tumpah saat upacara pemakaman, dia tidak sanggup melihat wajah yang terlihat begitu tenang, damai. Meskipun sekilas dia melihat mamanya tersenyum. Namun dia tetap mengharapkan wajah yang bersinar, wajah wanita Amerika yang selalu diakuinya sebagai wajah paling cantik di dunia, wajah yang selalu menebarkan kehangatan, dan kebahagiaan, terbentang sejuta kata kasih untuk Exel dan papanya. Tapi tentu semua sudah sirna, tidak ada yang tersisa, just their memories. Exel merindukannya, ya dia sangat merindukannya.
Exel menggambil album fotonya. Dia membukanya dan membaliknya halaman per halaman. Diambilnya satu buah foto, lalu dia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di belakang foto itu. I threw our memories in your smile, love you mom. Exel kemudian memeluk foto itu, perlahan-lahan dia tertidur, perasaannya sangat lelah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar