...
“Rena! Sini kau!” Terlihat wajah Rena menjadi pucat, gua salah apa lagi?! Terasa sekali tangannya mulai dibasahi keringat.
“Saya ingin kamu memperkenalkan seorang siswa baru kepada teman-teman kamu di sini.” Perasaan Rena berubah, tidak lagi takut tapi penasaran dan bingung. Tapi tak lama perasaan itu terjawab. Seorang cowo masuk dalam kelasnya. Wajahnya tidak biasa bukan karena dia murid baru, wajahnya menunjukan dirinya bukan orang Indonesia asli. Bule? Mendadak jantung Rena berdetak cepat, ketika dia menatap mata cowo itu, mata yang indah. Perasaan apa ini? Kenapa gua ngerasa aneh? Gua takut, gua ngga suka perasaan ini.
Rena hanya berdiri mematung, perasaannya kacau. Aneh, ini bukan dirinya. Begitu juga teman-temannya, dengan mudah mereka membaca kerisauan Rena.
“Saya Excel Parmadean Sinaga, saya biasa dipanggil Excel.” Cowo itu terlihat begitu terbiasa dengan keadaan baru seperti itu, tidak canggung, berbeda dengan Rena yang biasanya terlihat menyenangan sekarang terlihat begitu gugup.
“Saya Excel Pardamean Sinaga, saya biasa biasa dipanggil Excel.” Pandangan Excel begitu menarik perhatian seisi kelas, matanya seperti berbicara. Tapi tidak menarik perhatian cewe di disampingnya, cewe itu hanya menunduk, tengan kirinya menggenggam tangan kanannya. Excel terlihat bingung, perasaan gua ngga terlihat aneh, apa mungkin bahasa Indonesia gua yang fasih .”Saya sebelumnya tinggal di Amerika, dan memutuskan tinggal di Indonesia bersama papa saya.” Senyumnya yang hangat, membuat cewe seisi kelas jatuh hati padanya. Tetapi tidak untuk Rena, dia tetap menunduk, membuat Excel semakin bingung. “Bahasa Indonesia lo fasih juga ya.” Ucap Dendi, jagoan kelas yang juga adalah ketua kelas. “Selama saya di Amerika. Saat berbicara dengan papa saya diharuskan berbahasa Indonesia, atau bahasa batak, berbeda dengan mama saya ketika berbicara terbiasa menggunkan bahasa inggris. Sebelumnya saya juga sering datang ke Indonesia, dan saya mempunyai bebrapa teman baik di sini, jadi bahasa Indonesia saya cukup terlatih.” Setiap kata yang diucapkan Excel tak lepas dari senyum hangatnya, sungguh mempesona. Bahkan NIndi dan Manda yang dari tadi hanya memerhatikan tingkah aneh Rena malah beralih memandang Exel. Cowo yang berhasil membuat cewe seisi kelas mengagumi dirinya cuma karena senyumannya yang hangat itu.
“Selamat datang di sekolah kami dan selamat belajar bersama kami.” Exel terlihat bingung melihat cewe itu mengulurkan tangannya, dan Exel meraih tangannya.
“Selamat datang di sekolah kami dan selamat belajar bersama kami.” Rena mengulurkan tangannya, memberanikan diri, namun dia tetap menunduk, dia tidak melihat wajah cowo itu. “Gua Rena.”
“Gua Exel, salam kenal.” Cowo melemparkan senyum hangatnya. Tapi hal itu tidak dilihat oleh Rena. Sedikit pun tidak. Rena segera melepaskan tangannya, “Salam kenal juga.”
“Maaf pak, boleh saya duduk kembali?”
“Ya, kamu boleh kembali duduk.”
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar